Langsung ke konten utama

MODERASI ISLAM: BERGURU PADA SULTHANUL AULIYA’ SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI


Memahami kehidupan sehari-hari dengan merujuk langsung pada al-quran dan hadits membutuhkan sebuah keahlian khusus. Terlebih bagi kita umat muslim di Indonesia yang asing dengan bahasa terbaik di dunia tersebut. Permasalahan ini tentu sangat sulit bagi kita untuk memahami dan menjadikan al-quran dan hadits sebagai rujukan dalam kehidupan sehari-hari. Maka yang dapat menjadi rujukan lain untuk memahami kehidupan saat ini adalah dengan meneladani kehidupan para ulama’, cendekiawan Islam, dan orang-orang shalih.
Akan tetapi, umat Islam di Indonesia saat ini seperti telah kehilangan sosok yang dapat dijadikan sebagai teladan dalam kehidupan yang semakin tidak terarah ini. Benar memang saat ini banyak bermunculan ulama’ dan ustadz-ustadz di berbagai media elektronik. Akan tetapi ulama’ dan ustadz-ustadz tersebut tidak sesuai dengan keberagamaan dalam al-quran dan hadits. Padahal di sisi lain keteladanan penting untuk mendidik umat dalam pembentukan karakter yang kuat. Karakter tidak hanya menentukan eksistensi dan kemajuan seseorang, melainkan juga eksistensi dan kemajuan sebuah bangsa.
Keteladanan dapat berawal dari hanya sekedar membaca buku tentang kisah-kisah orang shalih, atau dapat juga diambil dari pengalaman secara langsung. Salah satu ulama’ yang dapat dijadikan teladan di era milenial ini adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Corak pemikiran keagamaan beliau adalah Sunni yang merepresentasikan kemoderatan ulama’ salaf. Dari sisi akidah, beliau lebih dekat dengan corak Al-Maturidi dan Al-Asy’ari. Sedangkan dalam bidang fikih, beliau lebih condong ke Syafi’iyah. Sebagaimana yang termaktub dalam kitab thabaqat madzhab Syafi’i, nama Syekh Abdul Qadir Al-Jailani bahkan telah masuk dalam nama-nama ulama’ terkemuka madzhab Syafi’i.
Keteladanan beliau dapat kita ambil ketika masa madzhab Hanbali dihadapkan pada ambang kehancuran. Pada saat itu Syekh Abdul Qadir bermimpi bertemu dengan Rosulullah SAW. Dalam mimpinya itu Rosululah meminta Syekh Abdul Qadir untuk menyelamatkan madzhab Hanbali. Setelah mendapatkan mimpi tersebut beliau beranjak berwudhu untuk menunaikan shalat. Akan tetapi, tata cara wudhu beliau berbeda dari biasanya. Setelah mendapatkan mimpi itu, beliau berwudhu dengan menggunakan tata cara Hanbaliyah. Beberapa orang yang melihat beliau saat itu serta merta mengikuti tata cara wudhu beliau. Itulah peristiwa yang dinilai sebagai penyelamatan madzhab Hanbali yang menjadikan nama beliau selain terpandang di dalam madzhab Syafi’i, juga terpandang dalam madzhab Hanbali.
Syekh Abdul Qadir menguasai hukum-hukum fikih dalam madzhab Syafi’i maupun Hanbali. Dalam kitab Bustan Al-‘Arifin Imam An-Nawawi menerangkan bahwa ketika dihadapkan pada orang-orang Syafi’iyah, Syekh Abdul Qadir berfatwa dengan menggunakan fatwa Imam Syafi’i. Begitu juga sebaliknya ketika dihadapkan pada orang-orang Hanbaliyah, beliau juga berfatwa dengan menggunakan fatwa yang diajarkan oleh Imam Al-Hanbal.
Sikap tawazun (seimbang) yang dicontohkan Syekh Abdul Qodir dalam menyikapi kedua madzhab tersebut sejalan dengan ajaran Islam yang universal dan seimbang. Sama seperti yang menjadi kajian keislaman dalam waktu dekat ini, yaitu “Moderasi Islam”. Kisah tersebut dapat menjadi gambaran muslim saat ini untuk lebih memaknai arti moderasi Islam yang sesungguhnya. Selain itu juga dapat menjadi titik tolak untuk semakin mengasah kepekaan terhadap kehidupan sosial. Lebih bijak dalam menyikapi segala hal agar tidak mudah terprovokasi oleh kelompok tertentu. Apalagi saat ini kita sedang dihadapkan pada guncangan tahun-tahun politik 2019. Maka toleransi sangat dibutuhkan untuk menciptakan suasana yang tentram dan damai.
Meneladani kisah Syekh Abdul Qadir bukanlah untuk belajar menjadi wali atau bermaksud menyamai Syekh Abdul Qodir Al-Jailani. Namun semua usaha dan kerja keras dalam kebaikan tersebut hanya untuk menjadi muslim yang baik dan tetap berada pada jalan yang benar. Tidak terlalu condong ke kiri (liberal), dan tidak pula terlalu condong ke kanan (radikal).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MENURUT KABAR, BURUNG AYAH SAYA SAKIT

Apakah tidak geli membaca judul esai seperti itu? Lalu bagaimana jika penggunaan tanda koma setelah kata kabar digeser menjadi setelah kata burung? Kemudian antara kalimat menurut kabar, burung ayah saya sakit dengan kalimat menurut kabar burung, ayah saya sakit mana yang lebih tepat? Penggunaan tanda baca koma setelah kata kabar dan kata burung pada judul tersebut, ketika dilafadzkan akan memiliki perbedaan tanda jeda. Perbedaan tanda jeda tersebut jika difahami lebih dalam, juga akan memiliki makna yang berbeda. Kalimat menurut kabar, burung ayah saya sakit jika difahami memiliki makna bahwa burung ayah sakit, tetapi kabar bahwa burung ayah sedang sakit tidak diketahui sumbernya secara pasti. Hal ini dapat difahami dari kalimat menurut kabar yang tidak diikuti dengan kata penjelas tentang kabar tersebut. Sementara kalimat menurut kabar burung, ayah saya sakit jika difahami memiliki makna menurut kabar dari mulut ke mulut yang beredar di dalam masyarakat, ayah penulis sedang ...

Biar Kukumpulkan Saja Rindu Ini

Kata siapa yang boleh rindu hanya Dilan. Aku juga boleh kan? Lagian aku kuat kok memikul rindu ini. Sudah setengah tahun kurang dua minggu ini aku tidak pulang. Terhitung sejak aku melangkahkan kaki keluar rumah pun aku juga jarang memberikan kabar. Tidak perduli orang mau membicarakanku seperti apa. Mau aku dianggap anak yang nggak tau diri, atau apapun itu, masa bodo. Biar aku kumpulkan saja rindu ini. Aku berpikir bahwa rindu ini juga ada hikmahnya. Apa kau sadar, karena sudah terbiasa, kau akan memandang menjadi biasa? Contoh kecil ketika kita sering berinteraksi dengan orang-orang terdekat kita. Pertama kita berbicara dengan bahasa yang ramah dan sopan – orang jawa menggunakan bahasa kromo . Tapi biasanya, karena sudah terbiasa dengan mereka, entah sadar atau tidak kita tidak berbicara menggunakan bahasa kromo lagi, terlebih malah menggunakan bahasa yang tidak pantas untuk diucapkan. Dan buruknya lagi, kita anggap itu hal biasa. Sementara kalau kita berbicara dengan orang y...

Motor Bahan Bakar Shallallahu ‘Ala Muhammad

Sudah satu minggu lebih memasuki bulan Robiul awal. Shalawat nabi tidak henti-hentinya ditujukan kepada beliau. sayyidul mursalin. Malam ini malam jumat, Joko diajak tindakan kiai nya. Motor bebek pabrikan lawas miliknya yang telah dicuci mengkilat diparkirkan di depan ndalem . Sementara Joko duduk di teras ndalem menunggu kiai nya yang masih wiridan . Tidak lama kemudian kiai keluar ndalem , “ Ayo, Jok!“. Dengan penuh rasa ta’dhim Joko menata gapyak yang akan dipakai oleh kiainya, lalu bergegas menghampiri motor miliknya, menghidupkan mesin dan menjalankannya. “ Bismillahirrahmanirrohim ”, Joko menginjak perseneling dan melajukan pelan motor miliknya keluar dari area ndalem . Ia terus melajukan motornya menjauhi ndalem. Tapi ia tidak tau kemana tujuan akhirnya. Banyak persimpangan telah ia lewati. “ menggok nengen ”, arahan dari kiai yang diseringi menepuk pundak kanan untuk belok kanan dan pundak kiri untuk belok kiri. Motor berjalan pelan di tengah-tengah persawahan y...