Sudah satu minggu lebih memasuki
bulan Robiul awal. Shalawat nabi tidak henti-hentinya ditujukan kepada beliau. sayyidul
mursalin.
Malam ini malam jumat, Joko diajak tindakan
kiai nya. Motor bebek pabrikan lawas miliknya yang telah dicuci mengkilat
diparkirkan di depan ndalem. Sementara Joko duduk di teras ndalem
menunggu kiai nya yang masih wiridan.
Tidak lama kemudian kiai keluar ndalem,
“ Ayo, Jok!“. Dengan penuh rasa ta’dhim Joko menata gapyak yang
akan dipakai oleh kiainya, lalu bergegas menghampiri motor miliknya, menghidupkan
mesin dan menjalankannya.
“Bismillahirrahmanirrohim”,
Joko menginjak perseneling dan melajukan pelan motor miliknya keluar dari area ndalem.
Ia terus melajukan motornya menjauhi ndalem. Tapi ia tidak tau kemana tujuan
akhirnya. Banyak persimpangan telah ia lewati. “menggok nengen”, arahan
dari kiai yang diseringi menepuk pundak kanan untuk belok kanan dan pundak kiri
untuk belok kiri.
Motor berjalan pelan di
tengah-tengah persawahan yang jauh dari SPBU. Joko melihat jarum bahan bakar
motornya sudah berada pada posisi merah. “Subhanallah, aku lupa isi
bensin. Bagaimana ini kalau bensinnya habis”. Pikirannya kacau, sementara tidak
ada yang bisa ia lakukan. Selama mengendarai motor Joko tidak henti-hentinya
berdoa dan membaca shalawat nabi.
“Shallallahu ‘ala Muhammad, Shallallahu
‘ala Muhammad, Shallallahu ‘ala Muhammad ……. ya Allah, jangan sampai
bensinnya habis ya Allah”
40 menit waktu sudah berlalu. Ia kembali
melihat jarum bahan bakar motor miliknya. Ia terus membaca shalawat. Tidak lama
kemudian sampailah ia ke tujuannya. “Alhamdulillah…”
Tetapi, ia baru memarkir motornya,
4 menitan kemudian kiai mengajaknya
untuk balik. Banyak pertanyaan dalam pikirannya kenapa kiai langsung minta
balik setelah melakukan perjalanan yang lumayan jauh. Tapi ia tidak berani
untuk bertanya.
Ia kemudian melajukan motornya
lagi. Dadanya semakin berdegup kencang khawatir jika bensin nya habis di tengah
jalan. Ia kembali bershalawat dan bershalawat. Sampai-sampai ia tidak berani
melihat jarum bahan bakarnya lagi.
Di tengah-tengah bacaan shalawat
yang dibacanya sepanjang perjalanan, tidak terasa pagar ndalem sudah terlihat
dari kejauhan. Artinya ia kembali tanpa kehabisan bensin. Ia langsung
mengucapkan syukur, alhamdulillah. Setelah itu ia langsung kembali ke kamar dan
tidur dengan pulas.
Keesokan harinya, ia hendak beli sarapan.
Ketika motor dihidupkan, tidak menyala sama sekali. Dan ketika dilihat,
bensinnya kering tidak tersisa satu tetes pun.
Komentar
Posting Komentar