Kata siapa yang boleh rindu hanya Dilan.
Aku juga boleh kan? Lagian aku kuat kok memikul rindu ini. Sudah setengah tahun
kurang dua minggu ini aku tidak pulang. Terhitung sejak aku melangkahkan kaki
keluar rumah pun aku juga jarang memberikan kabar. Tidak perduli orang mau
membicarakanku seperti apa. Mau aku dianggap anak yang nggak tau diri, atau
apapun itu, masa bodo. Biar aku kumpulkan saja rindu ini.
Aku berpikir bahwa rindu ini juga
ada hikmahnya. Apa kau sadar, karena sudah terbiasa, kau akan memandang menjadi
biasa? Contoh kecil ketika kita sering berinteraksi dengan orang-orang terdekat
kita. Pertama kita berbicara dengan bahasa yang ramah dan sopan – orang jawa
menggunakan bahasa kromo. Tapi biasanya, karena sudah terbiasa dengan
mereka, entah sadar atau tidak kita tidak berbicara menggunakan bahasa kromo
lagi, terlebih malah menggunakan bahasa yang tidak pantas untuk diucapkan. Dan
buruknya lagi, kita anggap itu hal biasa.
Sementara kalau kita berbicara
dengan orang yang belum kita kenal, kita akan menggunakan bahasa yang ramah dan
sopan. Misalkan saja ketika kita bertanya alamat pada orang yang tidak
kita kenal. Kita pasti akan memakai bahasa kromo. Masak iya kita
bertanya gini, “cuk, kon ngerti omahe Pak Eko?”. Apa akan dikasih tahu
alamatnya kalau kita bertanya dengan bahasa seperti itu.
Lalu kalau semacam ini, apa
seharusnya kita nggak usah kenal saja satu dengan yang lainnya? hmmm…
Komentar
Posting Komentar