Era Disruptif yang Harus Dihadapi Pasca Campus
Kehidupan pasca campus menjadi sebuah misteri
yang harus dihadapi oleh mahasiswa. Yang menjadi permasalahannya adalah hal ini
dapat berubah dengan cepat. Apalagi saat ini ditambah tengah terjadinya
suatu perubahan mendasar sampai ke akar-akarnya, yang disebut oleh
Profesor Rheinald Kasali sebagai disruption atau
disrupsi.
Sebagai seorang mahasiswa yang tidak pernah
dipersiapkan untuk menghadapi era disruption saat ini, tentu
tergagap-gagap ketika harus mengetahui telah datangnya disruption ini.
Memang sistem pendidikan yang diterapkan saat ini kebanyakan didominasi oleh
tenaga pendidik zaman old dan dengan membawa sistem old pula.
Tentu hal tersebut tidak tepat sasaran ketika diterapkan kepada anak didik
zaman now. Karena beda zaman, karakteristik anak didik pun juga akan
berbeda.
Seharusnya hal semacam ini sudah harus
diantisipasi sebelumnya. Siapa yang tidak
mengenal Nokia? Belajar dari perusahaan Nokia yang pernah berjaya di tahun 90-an. Dulu orang beli handphone, kalau tidak
merk Nokia, orang tidak akan mau. Lalu ke mana sekarang? Siapa pun yang
tidak mau beradaptasi, tidak ingin berubah, tidak mengikuti perubahan zaman,
tidak melakukan inovasi, maka akan selesai, akan lose dan lost.
Sementara di bawah bayang-bayang lose
dan lost tersebut, perubahan-perubahan tersebut terus melaju dengan
percepatan yang semakin bertambah. Dalam bidang otomotif misalnya, peran montir
mulai digantikan oleh sistem otomatisasi. Seluruh pekerjaan montir mulai
mendiagnosa kerusakan kendaraan sampai mengatasi kerusakan-kerusakan yang
didiagnosa tersebut, sudah dapat dilakukan dengan hanya duduk manis di depan
monitor.
Tidak jauh berbeda dalam bidang kedokteran.
Bagaikan mesin Autodoc dalam film Passengers: Sci-Fi yang digunakan
untuk memulihkan kondisi Jim ketika kritis akibat berusaha membuka pintu
pembuangan panas secara manual, saat ini di Jakarta telah ada mesin
pencuci darah otomatis yang tersebar dalam empat puluh titik. Jika biasanya
untuk sekali cuci darah dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, dengan mesin
tersebut bisa dipastikan akan menekan biaya 50% hingga 70% dari cuci darah biasanya.
Tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat, mesin ini juga beroprasi di seluruh
kota di Indonesia. Tidak bisa dibayangkan jika tugas dokter sepenuhnya diambil
alih oleh sistem otomatisasi mesin. Karena tidak lucu jika tugas dokter beralih
fungsi menjadi pengoperasi mesin.
Lalu Bagaimana dengan Profesi Guru?
Guru menjadi profesi yang sangat mulia. Anis
Baswedan dalam merdeka.com mengungkapkan bahwa guru itu penuh dengan tanda
jasa. Dalam setiap diri seseorang pasti ada tanda jasa guru. Di setiap gedung
yang menjulang tinggi, di sana ada tanda jasa guru. Apapun yang dikerjakan di dunia
ini, di sana tersimpan pahala guru. Guru memiliki peran yang sangat penting
dalam setiap jengkal peradaban saat ini.
Pada era disruption, guru dituntut untuk
mampu menjawab tantangan perubahan-perubahan yang terjadi di masa lalu, di masa
sekarang, dan di masa yang akan mendatang. Dalam berbagai bidang, keterlibatan
manusia telah digantikan oleh kecerdasan buatan, yaitu kecerdasan yang
ditambahkan kepada suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah atau
intelegensi artifisial (artificial intelegence). Tentu hal ini tidak menutup kemungkinan akan
merambah dalam dunia keguruan.
Glints menyadarinya. Glints peduli dengan
generasi muda, termasuk para calon guru. Oleh karena itu, Glints
memberikan dukungan financial generasi muda, termasuk para calon guru
melalui program Glints Scholarship Batch 3. Sekarang kembali lagi, jika guru
saat ini tidak segera berbenah mengikuti perubahan-perubahan yang terjadi, nasib
guru tidak akan jauh berbeda dengan yang terjadi pada bidang-bidang yang lain.
Guru akan lose dan lost.
Hari ini saja telah banyak ditemui berbagai
aplikasi yang canggih dalam menunjang dunia kependidikan. Jika besok mandat
guru benar-benar digantikan sepenuhnya oleh mesin, apakah guru akan masih
disebut sebagai guru, dan apakah pantas mesin-mesin tersebut menyandang
predikat sebagai guru? Ada satu hal yang dimiliki guru tapi tidak dimiliki oleh
mesin, yaitu perasaan. Mesin mungkin memiliki akurasi yang tepat, namun
manusia memiliki kebijaksanaan.
Sikap Sebagai Lulusan Keguruan dalam Menghadapi
Era Disruptif
Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh, DEA dalam
seminarnya yang bertemakan Pendidikan Agama Menjawab Tantangan Era
Disruptif mengungkapkan bahwa lulusan keguruan saat ini harus
menjadi generasi pemungkin, generasi yang
tadinya melihat sesuatu itu tidak mungkin, dengan paradigma berbeda menjadi
tampak mungkin. Kalau sudah mungkin, segala sesuatu menjadi mudah diraih.
Inilah tugas mahasiswa saat ini.
Pendidikan harus berorientasi pada keutuhan
kompetensi (‘and’ paradigm) antara sikap (attitude),
keterampilan (skill), dan pengetahuan (knowledge).
Tapi jangan sekali-kali melupakan imajinasi (imagination). Imajinasi itu
lebih penting dibandingkan dengan pengetahuan. Jika pengetahuan membahas
hal-hal yang sudah diketahui, imajinasi itu membaca dan merencanakan yang akan
terjadi pada masa mendatang.
Era disruptif sudah di depan mata. Generasi
muda harus tanggap, gesit, lincah, cerdas, kreatif, dan inovatif. Jika tidak,
akan tertinggal dan tertelan zaman.
Komentar
Posting Komentar